Sejarah Perang Bani Quraizah

Diposting oleh Paling cerdas on Minggu, 30 Desember 2012




Pagi hari, Rasulullah dan kaum muslimin pulang dari Khandaq (parit) dengan tujuan Madinah dan meletakkan senjata (istirahat). Pada waktu Zhuhur, Malaikat Jibril AS., datang kepada Rasulullah –seperti dikatakan kepadaku oleh az-Zuhri– dengan mengenakan sorban dari kain sutra tebal dan mengendarai Baghal yang diberi pelana dari kain sutra.

Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah, ‘Apakah engkau telah mele-takkan senjata, wahai Rasulullah?’. Rasulullah menjawab, ‘Ya’. Malaikat Jibril berkata, ‘Para malaikat belum meletakkan senjata. Mereka sekarang sedang mengejar kaum tersebut. Hai Muhammad, sesungguhnya Allah SWT., memerintahkanmu berangkat ke Bani Quraizhah. Aku juga akan pergi untuk mengguncang mereka‘. Setelah itu, Rasulullah SAW., memerintahkan penyeru untuk berseru kepada kaum muslimin, ‘Barangsiapa mendengar dan taat, ia jangan sekali-kali mengerjakan shalat Ashar kecuali di Bani Quraizhah.’

“Rasulullah SAW., menunjuk Ali bin Abi Thalib di depan barisan de-ngan membawa bendera perang dalam perjalanan menuju Bani Qurai-zhah sedangkan kaum muslimin berjalan di belakangnya. Kemudian Ali bin Abi Thalib terus berjalan dan ketika berada di dekat benteng-benteng, ia mendengar perkataan kotor ditujukan kepada Rasulullah. Seketika itu juga ia berbalik arah hingga bertemu Rasulullah di jalan. Ia berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, tidak ada salahnya kalau engkau tidak mendekat kepada orang-orang brengsek tersebut’. Rasulullah berta-nya, ‘Kenapa begitu? Aku yakin engkau mendengar perkataan kotor yang ditujukan kepadaku.”

Ali bin Abi Thalib berkata, ‘Ya, wahai Rasulullah!” Kemudian Rasulullah SAW., bersabda, ‘Jika mereka melihatku, mereka tidak akan berkata seperti itu’. Ketika Rasulullah telah mendekati benteng-benteng mereka, beliau bersabda, ‘Hai saudara-saudara kera, apakah betul Allah telah menghinakan kalian dan menimpakan hukuman kepada kalian?’. Mereka menjawab, ‘Hai Abu Al-Qasim, engkau bukan orang bodoh.’

Ketika Rasulullah tiba di Bani Quraizhah, beliau berhenti di salah satu sumur Bani Quraizhah di samping kebun mereka yang bernama Sumur Anna.

Setelah itu, kaum muslimin berdatangan. Bahkan, beberapa orang dari mereka tiba setelah Isya’ dan belum mengerjakan shalat Ashar karena berpatokan kepada sabda Rasulullah SAW., ‘Ia jangan sekali-kali mengerjakan shalat Ashar melainkan di Bani Quraizhah’. Kemudian mereka mengerjakan shalat Ashar di Bani Quraizhah setelah shalat Isya’. Allah tidak mengecam mereka di Al-Qur’an atas kejadian tersebut.

“Rasulullah mengepung Bani Quraizhah selama dua puluh lima malam hingga mereka menderita dan Allah memasukkan ketakutan ke hati mereka. Huyai bin Akhthab bersama Bani Quraizhah masuk ke benteng mereka –setelah orang-orang Quraisy dan orang-orang Ghatha-fan meninggalkan mereka– karena ingin menepati janji yang ia buat dengan Ka’ab bin Asad.”

“Ketika Bani Quraizhah yakin bahwa Rasulullah SAW., tidak mening-galkan mereka hingga mengalahkan mereka, Ka’ab bin Asad berkata kepada mereka, ‘Hai orang-orang Yahudi, kalian telah mendapatkan penderitaan seperti yang kalian rasakan. Oleh karena itu, aku ajukan tiga tawaran kepada kalian dan silakan kalian mengambil pilihan yang kalian inginkan’. Mereka berkata, ‘Apa ketiga tawaran tersebut?’ Ka’ab bin Asad berkata, ‘Ketiga tawaran tersebut ialah kita mengikuti Muhammad dan membenarkannya. Demi Allah, sungguh telah terlihat dengan jelas oleh kalian bahwa dia Rasul dan kalian mendapati namanya tertulis da-lam Kitab kalian. Dengan cara seperti itu, kalian mendapatkan keamanan terhadap darah, kekayaan, anak-anak, dan wanita-wanita kalian.’

Mereka berkata, ‘Kita tidak akan meninggalkan Kitab Taurat selama-lamanya dan tidak menggantinya dengan Kitab lain’. Ka’ab bin Asad berkata, ‘Jika kalian tidak mau tawaran pertama, mari kita bunuh anak-anak dan wanita-wanita kita, kemudian orang laki-laki dari kita keluar menghadapi Muhammad dan sahabat-sahabatnya dengan senjata lengkap tanpa meninggalkan beban berat (anak-anak dan wanita) di rumah hingga Allah menyelesaikan perkara kita dengan mereka. Jika kita terbunuh, kita terbunuh tanpa meninggalkan keturunan di rumah yang kita khawatirkan keselamatannya.

Jika kita menang, aku bersumpah bahwa kita akan mendapatkan wa-nita-wanita dan anak-anak’. Mereka berkata, ‘Haruskah kita membunuh anak-anak dan wanita-wanita yang seharusnya kita kasihani? Apa artinya kehidupan enak tanpa mereka?’ Ka’ab bin Asad berkata, ‘Jika kalian tidak mau tawaran kedua, malam ini adalah malam Sabtu, mudah-mudah-an Muhammad dan sahabat-sahabatnya memberi keamanan kepada kita. Oleh karena itu, turunlah kalian dari benteng-benteng semoga kita men-dapatkan kelengahan Muhammad dan sahabat-sahabatnya kemudian kita serang mereka dengan tiba-tiba’. Mereka berkata, ‘Kalau begitu kita merusak hari Sabtu dan mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikerja-kan orang-orang sebelum kita kecuali orang yang mendapatkan musibah yaitu pemusnahan seperti yang engkau ketahui’. Ka’ab bin Asad berkata, ‘Tidak ada seorang pun dari kalian sejak ia dilahirkan ibunya yang punya nyali meski satu malam saja.”

“Kemudian Bani Quraizhah mengirim delegasi kepada Rasulullah SAW., dengan membawa pesan, ‘Kirimlah kepada kami Abu Lubabah bin Abdul Mundzir saudara Bani Amr bin Auf dan sekutu orang-orang Al-Aus agar kita bisa meminta pertimbangan dalam masalah kami’. Rasulullah SAW., mengirim Abu Lubabah kepada Bani Quraizhah. Ketika mereka melihat kedatangan Abu Lubabah, orang laki-laki, wanita-wanita, dan anak-anak berlarian kepadanya kemudian menangis hingga abu Lubabah merasa iba kepada mereka. Orang-orang Yahudi Bani Quraizhah berkata kepada Abu Lubabah, ‘Hai Abu Lubabah, bagaimana pendapatmu kalau kita tunduk kepada hukum Muhammad.?’* Abu Lubabah berkata, ‘Ya’. Abu Lubabah berkata seperti itu sambil memberi isyarat dengan tangan ke tenggorokannya, yang artinya siap-siaplah kalian di sembelih.**

Abu Lubabah berkata, ‘Aku tidak beranjak dari tempatku ini hingga Allah menerima taubatku atas perbuatanku. Aku berjanji kepada Allah untuk selama-lamanya dan aku tidak diperlihatkan selama-lamanya kepada negeri yang di dalamnya aku pernah mengkhianati Allah dan RasulNya’.”

“Ketika Rasulullah SAW., mendengar informasi tentang Abu Lubabah –informasi tersebut agak terlambat sampai pada beliau–, beliau bersabda, ‘Seandainya ia datang kepadaku, aku pasti memintakan ampunan untuk-nya. Tapi jika ia telah berbuat seperti itu, aku tidak melepaskannya hing-ga Allah menerima taubatnya’.”

“Ummu Salamah RA., berkata, ‘Taubat Abu Lubabah diterima Allah.’ Aku berkata, ‘Bolehkah aku menyampaikan berita gembira ini kepadanya?’. Beliau bersabda, ‘Silakan, jika engkau mau’. Ummu Salamah berdiri di depan pintu kamarnya –itu terjadi sebelum hijab diwajibkan– kemudian berkata, ‘Hai Abu Lubabah, bergembiralah, karena Allah telah menerima taubatmu’. Para sahabat pun mengerumuni Abu Lubabah untuk melepaskan ikatannya, namun ia berkata, ‘Tidak, demi Allah, aku tidak mau, hingga Rasulullah sendiri yang melepaskanku dengan tangannya’. Ketika Rasulullah SAW., keluar untuk menunaikan shalat Shubuh, beliau berjalan melewati Abu Lubabah, kemudian melepaskan ikatannya’.

Ibnu Hisyam berkata, “Abu Lubabah mengikat diri pada tiang masjid selama enam hari. Dalam jangka waktu tersebut, istrinya datang di setiap waktu shalat untuk melepaskan ikatan agar ia bisa mengerjakan shalat. Usai shalat, ia kembali mengikat diri.

“Pada pagi harinya, Bani Quraizhah tunduk kepada hukum Rasulullah SAW. Orang-orang Al-Aus berdiri dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam kepadamu, mereka adalah keluarga kami dan belum lama ini engkau bertindak terhadap sekutu saudara-saudara Al-Khazraj seperti yang telah engkau ketahui’. Memang sebelum mengepung Bani Quraizhah Rasulullah mengepung Bani Qainuqa’ sekutu Al-Khazraj kemudian mereka tunduk kepada hu-kum beliau. Sikap beliau terhadap Bani Qainuqa’ tersebut pernah dita-nyakan Abdullah bin Ubai bin Salul kemudian beliau menyerahkan mereka kepada Abdullah bin Ubai bin Salul. Sesudah orang-orang Al-Aus berkata seperti itu, beliau bersabda, ‘Hai semua orang-orang Al-Aus, tidakkah kalian senang kalau urusan kalian diputuskan salah seorang dari kalangan kalian sendiri?’. Orang-orang Al-Aus menjawab, ‘Ya’ Rasulullah SAW., bersabda, ‘Sa’ad bin Muadzlah orangnya!”

Sebelumnya Rasulullah telah menempatkan Sa’ad bin Mu’adz di kemah dalam masjid beliau milik seorang wanita yang telah masuk Islam bernama Rufaidah. Ia mengobati orang-orang terluka dan menghibahkan dirinya untuk melayani kaum muslimin yang terluka. Ketika Sa’ad bin Mu’adz terluka akibat tembakan panah pada peperangan Khandaq, Rasulullah SAW., berkata, “Letakkanlah Sa’ad di kemah milik Rufaidah agar aku dapat mengunjunginya dari jarak dekat.”

Ketika Rasulullah menunjuk Sa’ad bin Mu’adz sebagai hakim atas Bani Quraizhah, kaumnya datang menemuinya kemudian mereka menaikkannya di atas keledai yang mereka beri bantal dari kulit. Sa’ad bin Mu’adz berperawakan gemuk dan tampan. Mereka pergi membawa Sa’ad bin Mu’adz menemui Rasulullah SAW. Mereka berkata: “Hai Abu Amr, berlaku baiklah terhadap keluargamu, sesungguhnya Rasulullah mengangkatmu sebagai hakim tidak lain agar engkau berbuat baik kepada mereka.”

Karena mereka terlalu banyak bicara maka Sa’ad pun berkata kepada mereka: “Sungguh telah tiba waktunya bagi Sa’ad bin Mu’adz untuk tidak takut terhadap kecaman orang dalam menegakkan hukum Allah!”

Beberapa orang yang tadinya ikut bersama Sa’ad bin Mu’adz pulang ke perkampungan Bani Abdul Asyhal lalu menyampaikan kabar duka cita kepada beberapa orang dari Bani Quraizhah sebelum Sa’ad bin Mu’adz tiba di tempat mereka.***

Ketika Sa’ad tiba di tempat Rasulullah SAW., beliau berkata kepada kaum muslimin yang bersama beliau di situ: “Sambutlah pemimpin kalian!” Adapun kaum Muhajirin berkata, ‘Maksud beliau adalah kaum Anshar!” Adapun kaum Anshar mengatakan, “Rasulullah menyuruh kita semua, maka dari itu sambutlah ia.!”

Mereka pun berdiri menuju Sa’ad bin Muadz dan berkata, ‘Hai Abu Amr, sesungguhnya Rasulullah mengangkatmu untuk memutuskan per-kara-perkara keluargamu’. Sa’ad bin Muadz berkata, ‘terhadap itu semua, kalian harus komitmen dengan janji Allah bahwa hukum tentang mereka adalah sesuai dengan hukum yang aku keluarkan’. Mereka berkata, ‘Ya’. Sa’ad bin Muadz berkata, ‘Kalian juga harus komitmen kepada orang yang ada di sini’. Sa’ad bin Muadz berkata seperti itu sambil menunjuk ke tempat Rasulullah, ia bertindak seperti itu sebagai penghormatannya kepada beliau. Rasulullah SAW., bersabda, ‘Ya’. Sa’ad bin Muadz berkata, ‘Tentang Bani Quraizhah, aku putuskan bahwa orang laki-laki mereka dibunuh, kekayaan mereka dibagi-bagi, dan anak-anak serta wanita-wanita ditawan’.”

Rasulullah bersabda kepada Sa’ad bin Muadz, ‘Sungguh engkau telah memutuskan perkara mereka dengan hukum Allah dari atas tujuh langit’.

“Setelah itu, orang-orang Yahudi Bani Quraizhah disuruh turun, kemudian Rasulullah menahan mereka di Madinah di rumah putri Al-Harits, salah seorang wanita dari Bani An-Najjar. Rasulullah SAW., pergi ke Pasar Madinah, kemudian membuat parit di sana. Setelah itu, beliau memerintahkan orang-orang Yahudi Bani Quraizhah dibawa ke parit tersebut dan memenggal kepala mereka di dalamnya. Mereka dibawa ke parit tersebut kelompok per kelompok, termasuk musuh Allah Huyai bin Akhthab, Ka’ab bin Asad tokoh Bani Quraizhah bersama enam ratus atau tujuh ratus orang-orang Bani Quraizhah. Ada yang mengatakan bahwa jumlah mereka adalah delapan ratus atau bahkan sembilan ratus. Orang-orang Yahudi Bani Quraizhah berkata kepada Ka’ab bin Asad ketika mereka dibawa kepada Rasulullah secara berkelompok, ‘Hai Ka’ab, bagaimana pendapatmu terhadap perlakuan Muhammad kepada kita?’. Ka’ab bin Asad berkata, ‘Kenapa kalian tidak berpikir di setiap tempat?. Tidakkah kalian lihat dai yang tidak terbantahkan? Bukankah orang di antara kalian yang dibawa kepadanya itu tidak kembali lagi? Demi Allah, inilah pembunuhan’. Itulah yang terjadi hingga Rasulullah SAW., selesai merealisasikan keputusan Sa’ad bin Muadz terhadap mereka.”

Musuh Allah, Huyai bin Akhthab, yang ketika itu mengenakan pakaian berwarna seperti bunga namun tercabik-cabik di semua sudutnya agar tidak diambil kaum muslimin, dia didatangkan dalam keadaan kedua tangannya ditali menyatu dengan lehernya. Ketika ia melihat Rasulullah SAW., ia berkata, ‘Demi Allah, aku tidak menyalahkan diriku karena memu-suhimu, namun barangsiapa tidak menolong Allah, ia tidak akan ditolong olehNya’. Setelah itu, Huyai bin Akhthab menghadapkan wajahnya kepada manusia dan berkata, ‘Hai manusia, tidak apa-apa terhadap perin-tah Allah. Ini adalah keputusan, takdir, dan penyembelihan yang telah ditetapkan Allah kepada Bani Israel’. Usai berkata begitu, Huyai bin Akhthab duduk, kemudian kepalanya dipenggal.

Dari Ummul Mukminin Aisyah RA., yang berkata, ‘Hanya satu wanita yang dibunuh dari wanita-wanita Bani Quraizhah. Demi Allah, ia berada di tempatku. Ia ngobrol dan tertawa-tawa denganku ketika Rasulullah SAW., membunuh orang-orang laki-laki Bani Quraizhah di Pasar Madinah, tapi tiba-tiba penyeru menyebut namanya dengan berkata, ‘Mana si Fulanah?’ Ia berkata, ‘Demi Allah, akulah orangnya’. Aku berkata kepadanya, ‘Celakalah engkau, apa yang telah engkau lakukan?’. Ia berkata, ‘Aku dihukum mati’. Aku bertanya, ‘Kenapa engkau dihu-kum?’ Ia menjawab, ‘Karena kejahatan yang aku lakukan.**** Kemudian wanita itupun dibawa dan dipenggal kepalanya. Demi Allah, aku ingat terus dan kagum kepadanya. Hatinya tetap baik dan tertawa-tawa padahal ia tahu akan dibunuh’.”

Rasulullah memerintahkan pembunuhan orang-orang Bani Qurai-zhah yang telah tumbuh jenggotnya (dewasa). Athiyyah Al-Quradhi mengatakan, ‘Rasulullah memerintahkan pembunuhan orang-orang Bani Quraizhah yang telah dewasa (baligh). Ketika itu, aku masih anak-anak dan kaum muslimin mendapatiku belum dewasa, jadi, mereka membe-baskanku.

Ayyub bin Abdurrahman berkata bahwa Salma binti Qais –ibu Al-Mundzir, saudara perempuan Salith bin Qais, dan salah satu bibi Rasulullah dari jalur ibu, pernah shalat menghadap dua kiblat, dan berbaiat kepada beliau dalam baiat kaum wanita– menanyakan tentang Rifa’ah bin Samuel Al-Quradhi kepada Rasulullah. Rifa’ah bin Samuel telah dewasa dan meminta perlindungan kepadanya dan sudah kenal dengan kaum muslimin sebelum ini. Kata Salma binti Qais, ‘Wahai Nabi Allah, ayah ibuku menjadi tebusanku, berikan Rifa’ah kepadaku, karena ia mengaku akan shalat dan makan daging unta’. Rasulullah memberikan Rifa’ah kepada Salma binti Qais kemudian Salma binti Qais membiarkan Rifa’ah bin Samuel hidup”.

Setelah itu, Rasulullah membagi-bagi kekayaan, wanita-wanita, dan anak-anak Bani Quraizhah kepada kaum muslimin.

Setelah itu, Rasulullah mengirim Sa’ad bin Zaid Al-Anshari saudara Bani Abdul Asyhal membawa tawanan-tawanan wanita Bani Quraizhah ke Najed dan menukar mereka dengan kuda-kuda dan senjata.

Rasulullah memilih salah seorang wanita Bani Quraizhah yang ber-nama Raihanah binti Amr bin Khunafah untuk diri beliau sendiri. Ia berasal dari Bani Amr bin Quraizhah dan tetap dalam kepemilikan beliau ketika beliau wafat. Rasulullah pernah menyatakan diri untuk menikahi-nya dan memasang hijab padanya, namun ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, biarkan aku dalam kepemilikanmu, karena itu lebih baik bagiku dan bagimu’. Rasulullah membiarkan status budaknya.

Pada saat Rasulullah menawan Raihanah binti Amr, ia tidak mau masuk Islam dan tetap memilih menjadi orang Yahudi. Karena itu, beliau melepaskannya dan kecewa karenanya.

Rasulullah sedang bersama para sehabat, tiba-tiba beliau mendengar suara dua sandal di belakang, kemudian beliau bersabda, ‘Ini pasti suara Tsa’labah bin Sa’yah yang menyampaikan berita gembira kepadaku tentang masuk Islamnya Raihanah’. Betul, Tsa’labah bin Sa’yah tiba di tempat beliau kemudian berkata, ‘Wahai Rasulullah, Raihanah telah masuk Islam’. Berita tersebut sangat menggembirakan hati Rasulullah’.”

“Tentang Perang Khandaq dan Bani Quraizhah, Allah SWT., menurun-kan surat Al-Ahzab. Di surat tersebut, Allah menyebutkan musibah yang menimpa kaum muslimin, nikmatNya kepada mereka, perlindunganNya kepada mereka, dan bagaimana Dia menghilangkan musibah tersebut dari mereka setelah adanya ucapan orang-orang munafik.

Allah SWT., berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.” (Al-Ahzab: 9)

Tentara-tentara yang dimaksud dalam ayat di atas adalah orang-orang Quraisy, Ghathfaan dan Bani Quraizhah. Tentara-tentara yang dikirim untuk melawan mereka adalah angin dan para malaikat.
“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawah-mu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai ketenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.” (Al-Ahzab: 10)

Orang-orang yang datang kepada kaum muslimin dari atas mereka adalah orang-orang Bani Quraizhah, sedang orang-orang yang datang dari bawah mereka adalah orang-orang Quraisy dan Ghathafan. Kemudian Allah berfirman,
“Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: ‘Allah dan RasulNya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya’.” (Al-Ahzab: 11-12)

Orang yang berkata seperti itu adalah Mu’attib bin Qusyeir. Kemu-dian Allah SWT., berfirman,
“Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata: ‘Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu’. Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: ‘Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)’. Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari.” (Al-Ahzab: 13)

Orang-orang yang berkata seperti itu adalah Aus bin Qaa’idhi dan orang-orang dari kaumnya yang sepaham dengannya. Kemudian Allah SWT., berfirman,
“Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat.” (Al-Ahzab: 14)

Fitnah yang dimaksud dalam ayat di atas adalah kembali kepada syirik. Kemudian Allah SWT., berfirman,
“Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah: ‘Mereka tidak akan berbalik ke belakang (mundur)’. Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al-Ahzab: 15)

Mereka yang dimaksud adalah Bani Haritsah, merekalah yang ingin mundur dalam perang Uhud bersama Bani Salimah. Kemudian mereka berjanji kepada Allah untuk tidak mengulanginya. Allah SWT., menyebutkan apa yang telah mereka janjikan seraya berfirman,
“Katakanlah, ‘Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja’. Katakanlah, ‘Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu’. Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” (Al-Ahzab: 16-17)

Kemudian Allah SWT., berfirman,
“Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu.” (Al-Ahzab: 18)

Orang-orang yang menghalang-halangi tersebut adalah orang-orang munafik. Kemudian Allah SWT., berfirman,
“Dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya, ‘Ma-rilah kepada kami’. Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar.” (Al-Ahzab: 18)

Maksudnya mereka tidak mengikuti perang melainkan hanya sekali dan tidak bersungguh-sungguh. Kemudian Allah SWT., berfirman,
“Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati.” (Al-Ahzab: 19)

Maksudnya, mereka seperti orang yang pingsan karena takut mati. Kemudian Allah SWT., berfirman,
“Dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Al-Ahzab: 19)

Maksudnya mereka mencaci maki kalian dengan perkataan yang tidak mereka sukai karena mereka tidak mengharapkan akhirat, tidak mendapatkan pahala di sisi Allah dan takut mati sebagaimana ketakutan orang yang tidak mengharapkan sesuatu apapun setelah kematiannya. Kemudian Allah SWT., berfirman,
“Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi.” (Al-Ahzab: 20)

Golongan-golongan yang bersekutu yang dimaksud adalah orang-orang Quraisy dan Ghathfaan. Kemudian Allah SWT., berfirman,
“Dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja.” (Al-Ahzab: 20)

Kemudian Allah SWT., berfirman kepada kaum mukminin,
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21)

Maksudnya agar kaum mukminin tidak lebih mencintai diri mereka daripada Rasulullah SWT., dan kedudukan beliau. Setelah itu Allah SWT., menyebutkan tentang kaum mukminin, kejujuran dan pembenaran mereka terhadap musibah yang Allah janjikan kepada mereka guna menguji keimanan mereka. Allah SWT., berfirman:
“Dan tatkala orang-orang mu’min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita’. Dan benarlah Allah dan RasulNya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (Al-Ahzab: 22)

Maksudnya, itu semua menambah kesabaran mereka terhadap musibah, tunduk kepada takdir dan pembenaran terhadap janji Allah dan rasulNya kepada mereka. Kemudian Allah SWT., berfirman,
“Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur.” (Al-Ahzab: 23)

Maksudnya, ada di antara mereka yang telah menyelesaikan tugas-nya dan pulang menghadap Allah, yakni para sahabat yang gugur sebagai syahid dalam peperangan Badar dan Uhud. Kemudian Allah SWT., ber-firman,
“Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu.” (Al-Ahzab: 23)

Maksudnya mereka menunggu apa yang dijanjikan Allah kepada mereka yaitu kemenangan atau mati syahid sebagaimana orang-orang yang mendahului mereka. Kemudian Allah SWT., berfirman,
“Dan mereka sedikitpun tidak merobah (janjinya).” (Al-Ahzab: 23)

Maksudnya mereka tidak ragu-ragu terhadap agama mereka dan tidak menukarnya dengan agama lain. Kemudian Allah SWT., berfirman,
“Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendakiNya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab: 24)

Selanjutnya Allah SWT., berfirman,
“Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mu’min dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al-Ahzab: 25)

Orang-orang kafir yang dimaksud dalam ayat di atas adalah orang-orang Quraisy dan Ghathfaan. Kemudian Allah SWT., berfirman,
“Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka.” (Al-Ahzab: 26)

Ahli Kitab yang dimaksud dalam ayat di atas adalah Yahudi Bani Quraizhah. Kemudian Allah SWT., berfirman,
“Dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka.Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan.” (Al-Ahzab: 26)

Maksud ayat di atas adalah pembunuhan kaum laki-laki dan menawan anak-anak serta kaum wanita. Kemudian Allah SWT., berfirman,
“Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak.Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.” (Al-Ahzab: 27)

“Setelah menyelesaikan permasalahan Bani Quraizhah, luka Sa’ad bin Muadz semakin parah, kemudian ia mati syahid karenanya”.

Al-Hasan Al-Bashri yang berkata, ‘Sa’ad bin Muadz adalah seorang yang gemuk. Ketika orang-orang memikulnya, mereka merasakan ringan. Beberapa orang munafik berkata, ‘Demi Allah, ia seorang yang gemuk, anehnya, kita tidak pernah memikul jenazah seringan ini’. Hal tersebut terdengar oleh Rasulullah SAW., kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Sa’ad bin Muadz mempunyai para pemikul selain kalian. Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh para malaikat senang dengan ruh Sa’ad bin Muadz dan Arsy bergetar karenanya.’

Korban dari kaum musyrikin ada tiga orang. Korban dari Bani Abduddaar bin Qushai adalah Munabbih bin Utsman bin Ubaid bin As-Sabbaq bin Abduddaar. Ia terkena panah dan meninggal dunia karenanya di Makkah. Ibnu Hisyam berkata, “Utsman yang dimaksud ialah Utsman anak Umaiyyah bin Munabbih bin Ubaid bin As-Sabbaq.”

Korban dari Bani Makhzum bin Yaqadzah adalah Naufal bin Abdullah bin Al-Mughirah. Orang-orang Quraisy meminta Rasulullah menjual jasad Naufal bin Abdullah kepada mereka. Di Perang Khandaq, ia menerobos parit, mendapatkan kesulitan di dalamnya, kemudian tewas, dan kaum muslimin menguasai jasadnya. Rasulullah SAW., bersabda, ‘Kita tidak butuh jasad dan harganya’. kemudian beliau memberikan jasad Naufal bin Abdullah kepada orang-orang Quraisy.

Korban dari Bani Amir bin Luai kemudian dari Bani Malik bin Hisl adalah Amr bin Abdu Wudd. Ia dibunuh oleh Ali bin Abi Thalib RA.

“Syuhada’ kaum muslimin di Perang Bani Quraizhah dari Bani Al-Harits bin Al-Khazraj adalah Khallad bin Suwaid bin Tsa’labah bin Amr. Ia dilempar dengan batu penggiling hingga tengkoraknya remuk. Ada yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW., bersabda, ‘Sesungguhnya Khallad bin Suwaid mendapatkan pahala dua orang syahid’.

Selain itu, Abu Sinan bin Mihshan bin Hurtsan saudara Bani Asad bin Khuzaimah juga meninggal dunia ketika Rasulullah sedang menge-pung Bani Quraizhah. Jenazah Abu Sinan bin Mihshan dimakamkan di kuburan Bani Quraizhah.

Pada saat para sahabat pulang dari parit (khandaq), Rasulullah SAW., bersabda, ‘setelah tahun ini, orang-orang Quraisy tidak akan menyerang kalian, namun kalian yang akan menyerang mereka’. Ternyata benar, sejak tahun itu, orang-orang Quraisy tidak menyerang kaum muslimin dan sebaliknya Rasulullah yang menyerang mereka hingga Allah SWT., menaklukkan Makkah untuk beliau.”

Catatan:

* Hal itu disebabkan ketika mereka telah terkepung dan yakin kalah, mereka mengutus Sya’s bin Qeis untuk meminta kepada Rasulullah agar mereka diperlakukan seperti halnya Bani Nadhir, yakni meninggalkan harta dan perhiasan serta pergi dengan membawa kaum wanita dan anak-anak sebatas yang mampu dibawa oleh unta. Namun Rasulullah menolaknya. Ia berkata: “Lindungilah nyawa kami dan selamatkanlah anak-anak dan wanita kami. Kami tidak butuh apapun yang dapat dibawa oleh unta.” Namun Rasulullah tetap bersikeras membawa mereka kepada hukum beliau. Akhirnya Sya’s kembali menemui mereka dengan membawa kegagalan. (Syarah Mawaahib karangan Az-Zarqaani).
** Dalam kitab Syarah Mawaahib disebutkan: “Sepertinya Abu Lubabah mengerti dari penolakan Rasulullah untuk melindungi darah mereka. Tahulah ia bahwa Rasulullah akan menyembelih mereka bila mereka tunduk kepada hukum beliau. Oleh karena itulah ia mengisyaratkan hal tersebut kepada Bani Quraizhah
*** Yakni apa yang mereka pahami dari perkataan Sa’ad: “Sungguh telah tiba waktunya bagi Sa’ad bin Mu’adz untuk tidak takut terhadap kecaman orang dalam menegakkan hukum Allah!” yakni Sa’ad akan menjatuhkan hukuman mati terhadap Bani Quraizhah, maka mereka pun menyampaikan kabar duka cita itu kepada Bani Quraizhah sebelum hukuman dilaksanakan.
**** Ibnu Hisyam berkata: Wanita itulah yang melemparkan batu penggiling kepada Khallad bin Suwaid hingga meninggal dunia
Share this :