Daftar Artikel Menarik

Inilah kedua pasangan astronot Indonesia yang dilatih NASA

Diposting oleh Sandi Asyuri on Minggu, 30 September 2012


Inilah kedua pasangan astronot Indonesia yang Pernah dilatih NASA - Neil Armstrong, astronot pertama yang mendarat ke bulan telah meninggal dunia pada beberapa waktu yang lalu. Bicara soal astronot pertama, Indonesia juga memiliki dua astronot angkatan pertama yang memiliki pengalaman dilatih NASA, mereka adalah Pratiwi Sudarmono dan Taufik Akbar.

foto pasangan astronot Indonesia

Pratiwi adalah seorang ilmuwan dan profesor mikrobiologi dari Universitas Indonesia. Beliau lahir tanggal 31 Juli 1952 di Bandung. Sementara, Taufik Akbar adalah seorang insinyur dan sekarang adalah Direktur Sumber Daya Manusia di Telkom, dia lahir 8 Januari 1951 di Medan.

Kala itu, rencananya Indonesia akan memberangkatkan kedua astronot ini ke luar angkasa dengan menggunakan pesawat ulang-alik Columbia untuk menjadi kru yang mengoperasikan satelit Palapa B-3. Keduanya pun dilatih di bawah bimbingan NASA, Amerika Serikat. Pemerintah RI juga mengeluarkan biaya cukup besar untuk latihan ini. Pratiwi dan Taufik pun sudah siap diterbangkan ke luar angkasa.

Namun, kejadian yang mengguncang dunia astronomi terjadi pada 28 Januari 1986. Pesawat Challenger yang baru lepas landas selama 73 detik meledak di angkasa dan menewaskan tujuh kru yang berada di pesawat ulang alik tersebut. Hal ini membuat NASA membatalkan beberapa penerbangan ke luar angkasa termasuk pesawat Columbia yang direncanakan akan membawa kedua astronot tanah air ini.

Akhirnya, setelah beberapa saat, Satelit Palapa B-3 tetap diluncurkan dengan roket Delta, tanpa kehadiran astronot dari Indonesia. Sejak saat itu, Indonesia tidak pernah terdengar lagi rencana Indonesia mengirimkan astronot ke luar angkasa. Kini, Pratiwi Sudarmono meneruskan karirnya sebagai ilmuwan dan profesor di UI, sementara Taufik Akbar berkarir di PT Telkom.

Saat ini, jurusan astronomi di Indonesia kurang begitu diminati karena peluang kerjanya yang dianggap kecil. Namun, anggapan itu disanggah oleh data sensus yang diperoleh Wall Street Journal. Lulusan program studi ini bahkan memiliki tingkat pengangguran sebesar nol persen. Banyak lahan yang bisa diambil karena minimnya lulusan jurusan astronomi di dunia. So, jangan takut mengambil jurusan astronomi walaupun belum tentu menjadi astronot. ITB saat ini menjadi satu-satunya universitas yang memiliki jurusan astronomi di Indonesia.


Share this :