Daftar Artikel Menarik

Mbah Fanani Bertapa 26 Tahun Di Dataran Tinggi Dieng

Diposkan oleh Sandi Asyuri on Rabu, 04 Juli 2012

Jalan berliku dan curam ditambah dengan dinginnya udara tidak menyurutkan laju kuda besiku untuk mencapai dataran tinggi Dieng yang konon merupakan salah satu dataran tinggi terluas di Indonesia dengan ketinggian 2093 M DPL.


Dengan suhu bisa mencapai 0 derajat celcius pada pagi hari (musim kemarau) di bulan juli dan agustus. (sumber wikipedia) 


Semua berawal dari informasi yang aku dapat dari dunia maya juga beberapa kawan mengatakan hal yang senada, hingga akhirnya ingin membuktikan sendiri keberadaan sosok misterius yang menjadi perbincangan banyak orang tersebut. 
Mbah Fanani demikian orang-orang menyebutnya, keberadaan Mbah Fanani di dataran tinggi Dieng cukup menarik untuk ditelisik. Siapa sebetulnya beliau? Dan apa maksud serta tujuan Mbah Fanani bertapa? atau lebih tepatnya menurutku menyendiri selama 26 tahun lamanya ditepi jalan di dataran tinggi dieng di rt 1/rw 1 Desa Dieng Kulon depan Musala Al-Amin jalan menuju komplek Candi Dieng, dari Musala kurang lebih berjarak 25 meter. Dengan hanya menempati bilik kecil berukuran kurang lebih 1,5x1 meter berdinding dan beratapkan terpal berwarna biru. (lihat foto) 
Musala Al-Amin dari seberang jalan, terlihat bilik berwarna biru
Disaat orang kebanyakan berlomba-lomba mengejar gemerlapnya isi dunia justru sebaliknya sosok Mbah Fanani menepi seorang diri menjauh dari itu semua cukup di bilik kecil dengan hanya berkain sarung saja. 
H. Zainudin adalah orang pertama yang aku coba tanya, tak banyak yang aku dapatkan informasi dari lelaki sepuh ini. Beliau terkesan tertutup dan nampak hati-hati sekali dalam berkata. Meski demikian beliau memberikan penjelasan sebelum Mbah Fanani menempati bilik itu sambil tangannya menunjuk kearah yang dimaksudkan dari dalam musala. 
Dahulu Mbah Fanani sebelum di Desa Dieng Kulon ini, bertapa di Desa Sitieng menempati sebuah goa kecil ditepi jalan hingga beberapa tahun lamanya, kemudian tanpa diketahui sebabnya beliau berpindah ke Desa Wadas Putih yang masih satu arah jalan menuju komplek Candi Dieng, lantas berpindah lagi di Desa  Patak Banteng dan di Desa Dieng Kulon ini paling lama, yaitu kurang lebih 17 tahun lamanya kata beliau. 
Lain halnya dengan penuturan Pak Mujiono lelaki tengah baya yang memiliki usaha toko persis diseberang jalan Musala Al-Amin. Beliau mengatakan terkadang banyak orang-orang dari luar kota berdatangan antara lain dari Batang, Pekalongan, Purwokerto, Jepara serta kota lainya hingga dari luar Jawa mengunjungi tempat pertapaan Mbah Fanani katanya. Masih menurut penuturan Pak Mujiono, bahkan sering terlihat mereka yang datang ternyata diketahui para santri dari luar kota kemudian membersihkan tempat sekitar pertapaan Mbah Fanani. 
Rumah Pak Mujiono bisa terbilang sangat dekat dengan pertapaan Mbah Fanani, namun selama belasan tahun lamanya beliau menuturkan tidak pernah sekalipun melihat Mbah Fanani keluar dari bilik kecil tersebut. Ketika aku tanyakan maksud dan tujuan Mbah Fanani laku tapa, beliau menjawab tidak tahu. Beliau justru menyuruhku bertanya ke sebuah rumah yang persis berada di belakang tempat Mbah Fanani bertapa. 
Foto diambil dari rumah Pak Mujiono
Rasa penasaran membuatku mendatangi rumah yang persis dibelakang bilik Mbah Fanani, saat melewati depan bilik yang tertutup rapat itu sempat aku lirik ada piring dalam keadaan kosong tergeletak dibibir bilik, selebihnya hanya gelap yang terlihat meski sore itu cukup cerah cuacanya. 
Di teras ternyata terlihat berkumpul ibu-ibu yang sedang mengobrol, mereka sepertinya bersikap biasa saja dan tidak ada sesuatu yang aneh meski jarak antara tempat mereka duduk-duduk ke bilik Mbah Fanani tak lebih dari 5 meter jaraknya. Akhirnya satu diantara mereka aku ketahui bernama Ibu Sugiono pemilik rumah. Tak banyak pula yang aku dapat keterangan dari Ibu Sugiono baik maksud dan tujuan Mbah Fanani memilih bertapa di depan rumahnya tersebut.
Foto diambil dari rumah Pak Sugiono
Yang pasti selain para pengunjung luar kota juga yang kebetulan melintas kemudian memberikan makan dan air mineral di bilik, dalam kesehariannya Pak Sugiono dan keluarga yang menyediakan makanan. Tapi anehnya meski mereka yang paling dekat secara fisik dengan Mbah Fanani juga belum pernah melihat sosok Mbah Fanani keluar dari bilik selama ini.
Padahal dari penuturan Ibu Sugiono keluarganya juga menyediakan/membuatkan khusus kamar kecil tapi hingga saat ini belum pernah digunakan sama sekali. Kesan hati-hati dalam memberikan informasi begitu terasa dari orang-orang sekitar Mbah Fanani bertapa, akhirnya aku putuskan mencari informasi yang cukup jauh jaraknya namun masih diseputar Dataran Tinggi Dieng. 
Dari kabar yang berhembus luas dari penduduk setempat, sosok lelaki misterius yang disebut Mbah Fanani ini memiliki pandangan khusus mengenai dataran tinggi dieng. Sebagaimana tertera dalam ramalan Jayabaya disebutkan wilayah Kedulangmas (Wil. Kedu, Magelang & Banyumas) nantinya akan ditutupi banjir bandang yang besar. 
Oleh karena itu Mbah Fanani memiliki kayakinan dia tidak akan pulang ke tanah kelahirannya sebelum hal tersebut terjadi di daerah yang dimaksudkan. 
 "Disini penulis jadi ingat sepanjang jalan dari arah Wonosobo baik bukit maupun gunung seputar dataran tinggi dieng hampir tidak menemukan hutan atau pohon besar kecuali tanah gunung dan perbukitan yang sudah berubah fungsi menjadi lahan tanaman kentang dan sebagainya". (lihat foto). 
Gunung sekitar diperkosa sedemikian rupa
Beralih fungsi bagaimana jika alam menagih janji?
Masih menurut cerita seputar Mbah Fanani dari penduduk setempat. Pernah suatu hari keluarga Mbah Fanani yang konon dari Kuningan Jawa Barat datang bermaksud menjemput dan kemudian mengangkat tubuh Mbah Fanani dari dalam bilik kedalam mobil namun anehnya ketika mobil hendak distater tidak bisa hidup. Atau dengan kata lain Mbah Fanani mengisyaratkan tidak ingin pulang terlebih dahulu. 
Ada lagi cerita yang berhembus suatu hari pernah dikawasan jalan Desa Dieng Kulon dan Wetan yang masuk wilayah wonosobo terendam banjir bandang namun anehnya air yang mengalir seperti menjauh dari tempat pertapaan Mbah Fanani. Di luar nalar memang namun demikianlah cerita dari penduduk setempat yang dekat dengan tempat pertapaan Mbah Fanani. Dan masih banyak lagi cerita-cerita mistis seputar sosok misterius Mbah Fanani yang berkembang di masyarakat. 
Yang pasti hanya Tuhan dan Mbah Fanani sendiri yang mengetahui maksud dan tujuan yang tersirat dari beliau melakukan tapa di dataran tinggi dieng. Wallahu A'lam Bisowab. (an_sambiru)

Share this :